tangan di atas

Perjalanan 12 tahun TDA

Bermula dari blog Pak Roni (Badroni Yuzirman) yang sekarang sudah bersalin rupa menjadi  www.roniyuzirman.com yang isinya tulisan mengenai bisnis dan buku-buku yang dibacanya ternyata mempunyai banyak penggemar dan kemudian tercetus ide diantara mereka untuk melakukan kopdar langsung dengan Pak Roni adalah cikal bakal terbentuknya Komunitas TDA (Tangan Di Atas). Kopdar tersebut berlangsung 12 tahun lalu, (23 Januari 2006) akhirnya ditetapkan sebagai tanggal lahir TDA, nama tersebut diberikan oleh Pak Haji Alay/Ali (H. Nuzli Arismal) seorang pengusaha muslim yang banyak menginspirasi Pak Roni dan berdirinya TDA.

Selama 12 tahun keberadaan TDA telah menjadikannya komunitas wirausaha terbesar di Indonesia, memberikan banyak kontribusi positif terutama di dunia kewirausahaan negeri ini. Kepengurusan saat ini sudah berada di 5.0 yang mengusung “Scale Up Spirit” sebagai programnya, ingin menjadikan para anggota TDA bisa naik kelas menjadi lebih besar bisnisnya sehingga diharapkan makin berdaya untuk berkontribusi positif bagi peradaban dan menebar manfaat lebih banyak.

Tangan Di Atas bukan komunitas wirausaha atau bisnis pertama dan satu-satunya, bagaimana dan apa yang membedakan dengan komunitas wirausaha lain atau bahkan organisasi bisnis lain di Indonesia? Jawabannya mungkin karena TDA tidak bergantung pada 1 sosok atau tokoh, tidak ada tokoh yang lebih besar dari TDA itu sendiri. Saya jadi teringat beberapa tahun lalu saat bersama teman-teman bertemu pertama kali dengan pengurus daerah organisasi usaha yang keberadaannya diatur melalui sebuah Undang-Undang, seorang pengurusnya bertanya dan menyatakan “Siapa sih sebenarnya yang ada di balik TDA? Saya nggak percaya kalau tidak ada seseorang di belakang TDA, pasti ada seseorang”

Bahkan setelah dijawab bahwa tidak ada tokoh di belakang TDA dan kami bergerak bukanlah karena arahan tokoh tertentu tapi didasari kesamaan pandangan akan nilai-nilai TDA dan merupakan gerakan sosial, saya masih bisa merasakan ketidakpercayaannya saat itu.  Penilaian semacam itu wajar adanya apabila membandingkan dengan komunitas atau gerakan sejenis yang biasanya berasal dari pemikiran atau digerakkan berdasar nama besar seseorang, tapi mungkin itulah yang membuat TDA hari ini mencapai 12 tahun, karena tidak menyandarkan kepada nama besar 1 orang.

Jawaban lain dari saya mungkin karena TDA tidak pernah direncanakan berdiri dari awal, bahkan menurut Pak Roni tidak pernah terbayangkan bahwa TDA akan menjadi seperti dan sebesar sekarang. Menjadi sebuah milis yang ramai untuk saling berkomunikasi dan berbagi informasi dan ilmu, berganti menggunakan instant messaging seiring perkembangannya, mengadakan Pesta Wirausaha nasional dan di TDA daerah setiap tahun dan kini ada di puluhan kota di Indonesia dan juga beberapa negara.

Menjadi bagian dari Komunitas TDA adalah salah satu hal yang patut disyukuri, menjalin silaturahim dengan anggota dari daerah lain selayaknya sahabat lama walaupun baru pertama bertemu, mengenal dan belajar dari pribadi-pribadi hebat yang menginspirasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

thirteen + 13 =