Uncategorized

Ibukota negara di tempat lain saja

Sejak lama saya setuju pemikiran bahwa pusat pemerintahan dengan pusat perdagangan dan industri itu sebaiknya dipisah, tapi saya sebagai warga Kalimantan Timur juga kurang menyukai keputusan ibukota negara yang baru pindah ke Kalimantan Timur, nah lo.
Pemerataan itu sebuah kata yang sulit sekali berlaku sepertinya di negara ini, dalam hal ini pemerataan ekonomi, prinsip yang dianut para pemangku kepentingan atau bahasa kerennya stakeholders mungkin adalah “Kalau bisa semua kepentingan dijadikan satu tempat”. Berkaitan dengan hajat dompet mereka sepertinya, jadilah industri dan perdagangan berkumpul di Greater Jakarta (kalau istilah orang Inggris) atau yang kita kenal Jabodetabek
Secara efisiensi memang benar karena infrastruktur di sana memang lebih baik untuk mendukung mendirikan sebuah pabrik, secara market jelas penduduk di sana yang paling banyak dibanding pulau lain di negara ini. Akan tetapi menumpuknya berbagai hal dan urusan di satu tempat membawa juga beban yang terakumulasi hingga menimbulkan dampak yang membesar melebihi kemampuan penanganannya, antara lain macet dan polusi.
Sangat biasa sekali di negeri ini memandang dan menjadikan hal di negara lain sebagai acuan tetapi saat ingin direalisasikan di negeri ini, menjadi timbul kontra pendapat, mungkin seperti halnya orang Indonesia kalau ke luar negeri tertib buang sampah pada tempatnya, tapi begitu balik ke Indonesia jadi buang sampah tempatnya dimana-mana aja bisa.
Banyak negara lain dimana pusat pemerintahan dengan pusat industri berada di kota yang berbeda, contohnya mungkin negaranya Mr. Trump. Pusat pemerintahan ada di Washington sebuah kota di negara bagian Columbia, sedangkan industrinya tersebar di berbagai kota di berbagai negara bagian. Tapi Amerika Serikat kan bentuknya daratan, kalau negara kita kan kepulauan yang lebih sulit untuk transportasinya? Ada yang argumennya begitu memang, tapi pada tahu yang namanya kapal laut dan pesawat terbang kan?
Maka saya setuju narasi bahwa negara kita dihubungkan oleh lautan bukan dipisahkan oleh lautan, konteks sama tapi semangatnya beda.
Wacana pemindahan ibukota negara sudah dikemukakan sejak era Presiden Soekarno, saat ini wacana itu semakin dekat dengan ditetapkannya Kalimantan Timur sebagai lokasinya, kita tinggal menunggu lokasi pastinya di RT mana. Senang dan bangga sebagai warga Provinsi Kalimantan Timur dijadikan lokasi ibukota negara yang baru? Saya sih tidak begitu senang dan bangga, dan ternyata banyak teman-teman saya yang berpikiran sama.
Alasan kenapa saya pribadi menolak adalah, tidak yakin akan manfaat yang didapat provinsi ini secara langsung terlebih manfaat bagi warganya. Saya meyakini ada lebih banyak permasalahan yang ikut dibawa dalam proses dan hasil pemindahan ibukota negara nantinya. Terlebih lagi nantinya akan hilang kesan hebat seperti:
A=“Mau kemana?”
B= “Ke Jakarta julak, ada acara”
A=”Bulan lalu juga ke Jakarta, sekarang ke Jakarta lagi ckckck, hebat kamu. Naik pesawat apa?”
B=”Hehehe kebetulan aja julak, naik Batik Air”
Itu mungkin percakapan dulu, nantinya mungkin akan seperti ini:
A=”Mau kemana?”
B=”Ke ibukota julak, ada acara”
A=”Sama teman atau sendiri? Naik apa?”
B=”Naik Go-Jek, itu yang motor mio di depan”
Nggak keren kan?