cerpenting

Cerpenting

“Halo mas apa kabar, lama nih nggak ketemu?” Tanya seorang pegawai institusi negara saat kami berjumpa di sebuah swalayan.

“Alhamdulillah baik pak” Jawabku sambil menyambut uluran jabat tangannya.

“Apa nih kesibukannya sekarang, kok nggak pernah datang lagi ke acara yang kami selenggarakan?” Tanyanya lagi.

“Berdagang seperti biasa aja pak, demi secepatnya bisa beli Lamborghini, Ferrari, sama Bugatti, diecastnya” Jawabku sambil nyengir.

“Hahaha bisa aja mas ini” Dia tertawa mendengar jawabanku.
“Kapan-kapan main ke kantor dong, kita ngobrol dan diskusi lagi, kebetulan program rutin kita bulan depan mulai angkatan baru, mas ngisi materi ya?” Sambungnya lagi.

“Wahh saya kasih materi apa ya pak, saya bukan expert nih?” Jawabku sambil pasang muka serius.

“Ahh mas ini bisa aja, pasti adalah yang bisa sampeyan share ke peserta, makanya kita ngobrol-ngobrol di kantor nanti” Balasnya.
“Kalau hari selasa jam 10 bagaimana?” Tanyanya.

“Hmmm” gumamku pelan sambil mengingat apakah ada hal yang mesti dikerjakan pada hari itu. “Insya Allah bisa pak” Jawabku beberapa detik kemudian.

“Ok saya tunggu di kantor ya mas” Ujarnya.

Sayapun mengacungkan jempol dan obrolan berlanjut.

“Oh iya mas alumni fakultas tempat istri saya mengajar ternyata” Ujarnya.

“Iya pak, Sekretaris Program Studi S1-nya yang sekarang teman akrab saya satu angkatan.

“Dulu waktu kuliah S1 bagusan mana nilainya sama dia?” Tanyanya sambil senyum kecil.

“Ganti-gantian aja sih pak, kadangkala nilainya tinggi dia, kadang juga nilai saya yang lebih rendah dari dia” Jawab saya sambil tersenyum.

“Hahahahaha” Jawabanku bikin dia tertawa agak nyaring.

Tiba-tiba seorang ibu yang membawa keranjang belanjaan menegur kami dengan ekspresi kesal. “Kalau ngobrol jangan di sini, di rumah aja, minggir saya mau bayar” ujarnya marah dengan sorot mata tajam kepada kami.

“Maaf” Ujarku sambil menundukkan kepala, lalu kami berdua menggeserkan diri, karena memang kami mengobrol di depan meja kasir.

“Loh mana ini kasirnya?” Seru si ibu dengan suara agak nyaring, sambil celingak-celinguk mencari keberadaan si kasir.

“Memang nggak ada kasirnya dari tadi bu, itu ada tulisannya ‘closed’ di mejanya” Ujarku sambil menunjuk ke tulisan yang kumaksud.

Si ibu memandangi tulisan tersebut beberapa saat kemudian langsung pergi dengan cepat tanpa menoleh.

 Kami berdua melihat si ibu sambil menahan senyum.

Leave a Reply

Your email address will not be published.